Jumat, 08 November 2013

// // Tinggalkan Komentar . . .

BILA AKU JATUH CINTA

Bila Aku Jatuh Cinta

Allahu Rabbi aku minta izin
Bila suatu saat aku jatuh cinta
Jangan biarkan cinta untuk-Mu berkurang
Hingga membuat lalai akan adanya Engkau
Allahu Rabbi
Aku punya pinta
Bila suatu saat aku jatuh cinta
Penuhilah hatiku dengan bilangan cinta-Mu yang tak terbatas
Biar rasaku pada-Mu tetap utuh
Allahu Rabbi
Izinkanlah bila suatu saat aku jatuh cinta
Pilihkan untukku seseorang yang hatinya penuh dengan
kasih-Mu
dan membuatku semakin mengagumi-Mu
Allahu Rabbi
Bila suatu saat aku jatuh hati
Pertemukanlah kami
Berilah kami kesempatan untuk lebih mendekati cinta-Mu
Allahu Rabbi
Pintaku terakhir adalah seandainya kujatuh hati
Jangan pernah Kau palingkan wajah-Mu dariku
Anugerahkanlah aku cinta-Mu...
Cinta yang tak pernah pupus oleh waktu
baca lengkapnya
// // Tinggalkan Komentar . . .

AKU INGIN

AKU INGIN
aku ingin …
hanyut dalam desir angin
menggericik dalam setiap tetes air
melesat bersama cahaya
tersenyum dalam setiap butiran bening embun di dedaunan
berdenyut dalam tiap detak waktu
berbaur dengan semua elemen, semua nada, semua warna
dan bernyanyi bersama kicau segala burung di alam semesta raya ini …!

Ilahi, Engkau…
pemimpin di setiap gerak langkah hidupku
matahari hatiku
rembulan jiwaku
penyejuk mataku
penolong hak-hakku
penolong perjuanganku menuju-Mu
tempat sejatiku berharap dalam setiap bait hembus nafas-Mu, yang Kau kirim jauh…sebelum aku lahir dari garba ibu
hakikat dari inti pencarianku
puncak tertinggi kerinduanku…!

Ilahi,
aku ingin…
Engkau sirnakan ke-AKU-anku yang tak pernah jinak dan terbang tanpa arah ini
ajari aku, agar hatiku tak mudah berucap “inilah AKU!!” di atas keramaian publik
karena yang berhak berakata demikian hanya Engkau,
cukupkanlah sosok sepi ini dengan ridho-Mu yang menyeluruh tiada batas
aku ingin…
berlayar dalam semesta akbar-Mu di ruang dan waktu manapun

Jombang, 22-01-2013
M. Fahmi
baca lengkapnya

Senin, 04 November 2013

// // Tinggalkan Komentar . . .

He Don’t Believe That’s First Love

He Don’t Believe That’s First Love
Biru memandang ke arah lautan. Biru laut terhampar di hadapannya. Lepas ia memandang, awan putih membentuk gumpalan-gumpalan dan sang mentari bersembunyi di baliknya. Angin bertiup semilir membelai rambutnya perlahan. Aroma laut mengingatkan akan masa lalunya. Ia berdiri di atas karang yang kokoh tegak ribuan tahun menahan terjangan ombak. Ia semakin larut dengan fikiran-fikirannya, lamunan-lamunannya, angan-angannya, dan semua yang ada di benaknya. Debur ombak di sela batu karang dan ikan-ikan berkejaran menikmati segarnya laut. Tiba–tiba ia dikejutkan dengan suara yang mengalahkan halilintar. Sampai pada akhirnya ia terbangun dari mimpi. Ia menatap seorang lelaki berdiri tegak di hadapannya, sambil membawa semprotan berisi air siap untuk menyiramnya. “Ampun Mas, ampun Mas! Dingin!”, air membasahi wajahnya dan ia segera berlari untuk wudlu.
Merupakan kesialan sekaligus keberuntungan baginya mempunyai ketua kamar sekaligus pengurus pondok yang setiap pagi selalu membuyarkan mimpi-mimpi indahnya. Ia harus berhadapan dengan manusia yang luar biasa tangguh dan tak terkalahkan. Dengan segala perlengkapannya semprotan berisi air di tangan kirinya, dan kayu menjalin yang hampir tak pernah lepas dari tangan kanannya. Begitulah cara Mas Syamsul menyapa para santri tiap pagi, jika ada santri yang masih tertidur pulas dan tidak sholat berjamaah di masjid. Gayanya mengalahkan pendekar dari negeri ‘Antah Berantah’. Itulah yang terjadi setiap kali Biru malas untuk bangun pagi.
*     *     *
Saat fajar mulai membentangkan sayap-sayapnya, sang subuh bersiap-siap menggantikannya. Hari itu Biru tidak lagi dibangunkan oleh Mas Syamsul. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri dan memegang prinsip tujuanya di sini. Ia berusaha membuang sifat malas, manja dan lain sebagainya. Pertama memang sangat berat baginya untuk bangun shubuh. Saat adzan shubuh terngiang di telinganya, ia pun beranjak bangun dan segera berwudlu. Ketika ia keluar dari kamarnya, hawa dingin tiba-tiba menyergapnya. Dengan segala tekad ia memberanikan diri untuk memeluk angin shubuh itu. Ia mengikuti sholat shubuh berjamaah lalu mengikuti pengajian kitab Riyadus-Shalihiin.
Ketika lubuk langit memantulkan semburat kemilauannya yang putih menerangi belahan bumi, sang mentari mulai menyingsing menelan sisa-sisa malam yang merambat pagi. Ia melangkahkan kakinya sambil memantapkan niatnya. Tak lama kemudian ia tiba di sekolah yang sangat ia banggakan.
Biru menatap langit, terlintas seekor burung terbang gelisah menembus awan. Ia semakin tidak mengerti dengan semua yang ada dalam benaknya.

“Aku sangat berterima kasih padamu, Pink. Aku banyak berhutang budi padamu. Engkah telah mampu membuka tabir kebenaran. Tanpa adanya pertolongan Allah yang dilewatkan padamu, mungkin aku akan sangat merasa sangat keberatan dalam menanggung beban kehidupan ini. Aku akan banyak terjatuh dan terluka jika aku berjalan sendiri. Engkau mampu menunjukkan aku pada jalan harapan. Dan sebagai gantinya, engkau boleh minta apapun kepadaku, sebagai balasan hutang budiku kepadamu.”
“Kita bersama-sama adalah saudara seiman. Walaupun kita berlawanan jenis, tapi kita mempunyai kewajiban untuk saling bahu-membahu, membantu satu sama lain dan menegakkan kebenaran di jalan Allah. Aku ikhlas melakukan ini semua. Kamu tidak perlu merasa berhutang budi padaku dan tidak perlu menggantinya dengan sesuatu apapun.” Sahut Pink.
“Tolong Pink, untuk kali ini saja jangan menolak. Engkau boleh meminta apapun dariku. Please!!” Pinta Biru penuh harap.
“Baiklah, jika itu kemauanmu. Aku hanya minta satu permintaan. Maukah suatu saat nanti engkau menjadi ungu?”
Kedua pasang mata itu saling menatap. Ada aura yang berbeda antara tatapan sekarang dengan sebelumnya. Entahlah, yang pasti tatapan itu tidak bisa dipahami oleh logika.

Jombang, 14 Oktober 2011
M. Fahmi

baca lengkapnya

Rabu, 30 Oktober 2013

// // 1 comment

Suara di Balik Tabir Senja

Suara di Balik Tabir Senja
    Sejenak kualihkan pandangan pada jam kehidupanku, ternyata aku akan segera sampai di penghujung. Tapi, aku baru sadar, bahkan begitu sadar aku belum berbuat sesuatu yang terbaik. Mungkin begitu sempitnya waktu atau aku sendiri yang tak menyadari telah tergilas oleh waktu. Sekali melesat, maka tak akan ada yang dapat menariknya kembali. Hidupku terkadang suka, kadangpun duka, dan tak jarang pula datar tanpa ekspresi.
Sore ini, semula aku tak ingin berbuat apa-apa. Pikiranku kusut memikirkan sesuatu. Tapi, hatiku bisa beku bila tak melakukan sesuatu. Ruangan kamar pondok ini terlalu sempit bagi jiwaku yang ingin terus mengembara tanpa batas. Itulah sebabnya, aku sengaja memilih keluar sore ini. Aku lebih memilih jalan sunyi yang mendaki lagi sukar penuh onak dan duri, serta batu-batu krikil yang tajam menantang merintang. Inilah pengembaraan yang lebih panjang untuk membuktikan cinta itu. Cinta bukanlah sekedar ucapan yang tak bermakna dan kadang bisa berbohong. Hatilah yang sebenarnya lebih jujur.  Perjalanan ini tak akan ada habisnya untuk menghidupkan kembali kemuliaan yang telah sirna. Kutulis segenggam asa ini. Kutulis semata-mata karena aku ingin menulis. Setelah semuanya tertulis dan segala resah gelisahku tertuang dalam buku ini, maka akan legalah perasaanku.
Di sinilah aku mengukir harapan untuk menghadapi kehidupan esok. Ya, esok… Ketika aku telah meninggalkan kehidupanku di sini. Tapi, di sini hidupku lebih terjamin dan terjaga dari kemusta’malan. Aku menikmatinya, karena di sinilah aku belajar teratur, mandiri dan disiplin. Sayangnya, hidupku di sini terbatas. Semuanya telah diatur oleh ketentuan hukum pesantren. Ibaratnya seperti dibatasi oleh lapisan yang begitu tipis, terbuat dari tiupan sabun cuci membentuk bulatan yang bila tesapu cahaya tampak warna-warni mejikuhibiniu. Dan di dalam pusaran itulah aku hidup.
    Bunga sabun ini suatu saat akan pecah. Tinggal kapan dan siapkah aku menghadapi realita yang akan terjadi. Apakah terlempar jauh ke bawah, ke dunia asing, atau ke dunia Antah berantah? Entahlah. Siapkah aku untuk melestarikan kehidupan yang selama ini kujalani setelah keluar dari pelindung bulat ini? Di luar memang terlihat lebih indah, lebih megah, tapi di sana lebih liar dan lebih tak aman, karena sekali salah maka akan tenggelam pada jurang kesesatan. Bukannya aku takut dengan kehidupan di luar sana, tapi dari detik ini setidaknya aku telah siap dan meyakinkan iman yang telah lama terpatri dalam jiwaku. Karena musuh sejatiku nanti bukanlah orang, melainkan hawa nafsu dan kehidupan masa kini yang keras dan ganas. Sekarang bukanlah seperti dahulu yang melawan musuh dengan peperangan fisik. Tapi, sekarang… ya, sekarang yang terjadi adalah peperangan bathin. Seseorang telah kalah dari peperangan jika ia menjual imannya. Ya, iman… Kini berpegang teguh pada iman islam, ihsan dan sunnah rasul ibarat memegang batu bara yang menyala. Jika tak kuat menahannya, tewaslah ia dalam menghadapi pertempuran melawan dirinya sendiri.
Aku harus segera berbenah diri, dan berusaha melakukan sesuatu yang terbaik dari yang terbaik.  Mulai dari sekarang, mulai dari yang terkecil, dan mulai dari diri sendiri. Aku tiba-tiba dikejutkan dengan suara, yang aku sendiri tak tahu dari mana asalnya. Suara itu seperti mengingatkanku akan sebuah perjuangan melawan ganasnya kehidupan. Mungkin, suara di balik tabir senja itu yang merayuku agar membuka jendela kehidupan yang sesungguhnya. Sedikit terkejut, suara itu mengajakku bangun dan meraih kembali kesadaranku. Detik-detik terakhir ini memang telah melahirkan sebuah kesadaran baru. Kesadaran bahwa, untuk apa sebenarnya aku diciptakan dan dihadirkan oleh Allah di dunia ini? Di samping itu, yang selalu melekat dalam pikiranku adalah aku akan berpencar dengan orang-orang kesayanganku. Aku akan berpisah dengan kamu, dia, dan mereka. Aku akan meninggalkan kisah terindah dari bunga sabun ini. Hingga suatu saat “pluk”, tanpa suara yang heboh, tanpa efek yang luar biasa, bulatan sabun itu pecah. Aku jatuh di tempat yang telah digariskan oleh-Nya. Dengan air mata aku menerima semua kenyataan. Dengan air mata aku tak bersama mereka lagi, penasehatku, pelipur laraku, para masyayikh, orang-orang yang telah memberiku pelajaran hidup, guru-guru, dan semua orang yang telah mendidikku untuk menjadi seseorang yang dewasa dalam bidang apapun. Semua itu aku terima dengan air mata kenyataan yang belum aku tahu, karena ternyata bulatan sabun kenangan itu belum pecah. Hanya tinggal menunggu dan merelakan sang takdir bila harus bicara terhadap diriku…
[ di penghujung tahun ]

baca lengkapnya

Sabtu, 08 Desember 2012

// // Tinggalkan Komentar . . .

Kami Memang Bukan Pemenang


Kami Memang Bukan Pemenang
Di saat lamunan menggerogoti dalam semayu keraguan…
Kau ucapkan kata TIDAK pada mataku…
Kau hingarkan pada diri kami dengan keraguan yang pasti…
Di saat kami mengangkat dan mengepalkan tangan kami…
Kau angkat bahumu dan katakan TIDAK…
Di saat kami akan melangkah maju…
Kau hentikan kami dengan hentakanmu…
Tapi… tak sedikitpun membuat kami renta…
Mungkin kau bisa menggerutu dengan apa yang kami katakan…
Mungkin kau bisa menertawakan kami dengan apa yang kami lakukan…
Tapi kami balas dengan senyuman…
Kau kira kami hanyalah keberhasilan semu??
Kami katakana TIDAK…
Kau kira kami hanyalah sekecil yang engkau banyangkan??
Sekali lagi kami katakana TIDAK…
Kami memang bukan PEMENANG…
Tapi kami bisa menjadi yang TERDEPAN…..
“PUISI di SUMBERBOTO”
By: Sany Tralala Uziwa…
baca lengkapnya
// // Tinggalkan Komentar . . .

Saat Tuhan Cemburu


Saat Tuhan Cemburu
Hampir setiap senin pagi, saya selalu menyempatkan diri membaca rubrik Manufacturing Hope di jawa pos, yakni sebuah catatan dari Dahlan Iskan, mantan CEO Jawa Pos yang sekarang menjadi menteri BUMN. Kalau sampai siang saya belum ketemu dengan koran jawa pos, maka saya sampai harus browsing Mbah Google, hanya demi untuk bisa membaca rubrik Manufacturing Hope-nya Jawa Pos.
Pertanyaannya, kanapa saya sampai bisa seantusias itu dengan Manufacturing Hope-nya Jawa Pos? Bisa jadi karena sejak awal saya memang sudah kasmaran dengan gaya tulis Dahlan Iskan yang polos, mengalir, dan sederhana. Serta daya ungkapnya yang menyejukkan, menjernihkan, dan penuh motifasi. Sehingga rubrik Manufactoring Hope, bagi saya menjadi semacam oase di tengah padang pasir kehidupan.
Seminggu yang lalu, Safi’ul Karim, kordinator jurnalistik Komunitas KOMA Bahrul Ulum meminta saya untuk ikut menyumbangkan tulisan buat newslater KOMA, yang sudah memasuki edisi kesekian kalinya dan hanya “Merajut Asa” ini yang mampu saya persembahkan. Mungkin tidak akan sehebat Manufacturing Hope-nya Dahlan Iskan, tapi saya tetap berharap semoga “Merajut Asa” ini bisa menjadi bukti cinta saya kepada Komunitas KOMA Bahrul Ulum, yang telah menemaniku belajar tentang banyak hal.
Masih terekam jelas dalam memoriku, kejadian sekitar lima tahun yang lalu, tepatnya dini hari tanggal 14 februari 2007. Saat itu, saya, Alib, Kupang, Maksum, dan beberapa kawan lain yang sedang ngelembur bikin mading dengan bahan dan peralatan tang serba terbatas. Namun, Alhamdulillah menjelang adzan subuh, sebuah mading berukuran 1 x 1,5 meter dengan background gambar hati yang retak, telah mampu kami selesaikan dan hal itu menjadi penanda kelahiran komunitan KOMA Bahrul Ulum..
Dan kini setelah hampir lima tahun berjalan, saya mengamati langkah-langkah komunitas KOMA yang sering kali membuat Tuhan cemburu dan di saat Tuhan cemburu, cubitan-cubitan cinta dari Tuhan, mau tidak mau harus KOMA rasakan. Namun, Alhamdulillah cubitan-cubitan cinta itu tidak lantas membuat KOMA menyerah. Justru cubitan-cubitan itu telah membuat KOMA semakin dewasa.
Apa bukti nyata cubitan-cubitan cinta dari Tuhan untuk KOMA? Semoga masih ada News Letter KOMA e.d.c berikutnya yang akan mengungkapkannya. Ha ha ha … JJJ
Pokok’e, untuk dulur KOMA semua di manapun berada Antum Rijaalul Yaum, Qoodimull Qhod.
Waullaahhu A’lam
Kampung KOMA., 11 Oktober 2012
B.S Alhamd
baca lengkapnya
// // Tinggalkan Komentar . . .

Rencana Teknis menuju H.U.T. KOMA ke -10 (14 Februari 2017)


Rencana Teknis menuju H.U.T. KOMA ke -10 (14 Februari 2017)
1. Oktober 2012 s/d 14 Februari 2013
·         Deal dalam lingkaran lokomotif konsep rencana teknis menuju H.U.T. KOMA ke-10
·         Road  show informal koma (putra) tiap malam jumat
Ø  Start  dari teras Bu Ba’i pukul 20:00 WIB
Ø  Berangkat pukul 20:00WIB
Ø  Tujuan di rolling…(mbah Wahab, Mbah Usman, Mbah Hamid, Mbah Fattah, dll)
Ø  Pemimpin tahlil juga sistem rolling
Ø  Ba’da ziarah, membentuk lingkaran dan evaluasi mingguan
Ø  Estimasi dana tiap Road Show (4 x Rp.5.000.00) jadi tiap bulannya Rp. 20.000,00
Ø  Road show ini juga dalam rangka seleksi alam organ biologis koma
·         Terbit News Letter tiap satu bulan sekali
Ø  Terbitnya tiap minggu ke – 3 ( tanggal 15 s/d tanggal 20 )
Ø  Penyebaran
v  Di tempel 10 lembar
v  Di koreksi guru Bhs. Indonesia 10  lembar
v  Jurnalistik PPBU  10 lembar
v  Bahan diskusi 10 lembar
Ø  Estimasi dana tiap terbit
v  Print                                        : Rp. 2.000,00
v  Foto copy : @ 40 x 200          : Rp. 8.000,00
Ø  Tiap edisinya selalu ada di liputan
Ø  Newsletter ini adalah sebagai persiapan diri untuk mensukseskan rencana penerbitan majalah bulanan
·         Diskusi newsletter secara internal sebulan sekali  .
Ø  Estimasi dana untuk konsumsi Rp. 10.000.00
·         Menghadiri acara pelatihan/diskusi yang diadakan oleh Komunitas Sastra yang lain di Jombang  ( misalnya: Rupin, Gubuk Liat, Bmart, Maiyah , dsb ) .
·         Rutin latian kanjeng santri 1 minggu sekali.

2. Tgl. 14 februari 2013-14 Februari 2014
·         Mutakmar KOMA yang dihadiri organ biologis KOMA yang sudah terseleksi.
Ø  Deal ad/art
Ø  Deal Pengurus Baru
Ø  Deal Raker


·         Aplikasi konsep KOMA (Aliyah) BU.
                                   
Ø  Job description
v  Pengasuh
v  Pembina
v  Pendamping
v  Ketua
1)      Mengkoordinir (membagi) kesempatan  belajar
2)      Memonitor semua kegiatan
3)      Menjadi humasy alam nyata KOMA
v  Sekertaris
1)      Mencatat tiap  hasil rapat/evaluasi KOMA
2)      Merapikan & menyimpan arsip  koma
3)      Menjadi humasy dunia maya ( website ) koma
v  Bendahara
1) mencatat setiap  pemasukan & pengeluaran koma .
2)  merapikan pembukuan keuangan
v  Dept. Baca
1) memenej perpustakaan koma .
2)mengumpulkan ( riset) tentang sejarah  mbah wahab .
3) menjadi distributor karya ke media .
v  Dept. Diskusi
1)      Diskusi rutin (jum’atan koma)  sebulan sekali putra –putri aliyah sederajat.
2)      Membuat liputan/ catatan hasil diskusi
v  Dept. Aksi
1)        Aksi wajib:
-          Menulis atau membuat majalah mini sebulan sekali (10 halaman)
-          Menulis atau membuat majalah 3(tiga) bulan sekali (30 halaman)
 2)     Aksi mubah
-          Musik
-          Kaligrafi/Lukisan, dsb.
Ø            Sumber dana
v  Bisnis pulsa Koma Cell
v  Bisnis lain yang tidak menggangu kegiatan KOMA
v   Hibah dari donatur yang tidak mengikat
·         RTL Kanjeng Santri
Ø 6 bulan  pertama ( Februari 2013 –Juli 2013), kumpulkan materi lagu.
Ø 3 bulan berikutnya (agustus 2013-oktober 2013), proses rekaman & pembuatan klip.
Ø 3 bulan terakhir (September 2013-januari2014), proses penyebaran & pemasaran.
·         Estimasi dana tahap (II)
v  Buletin bulanan 10 halamam
-          Print                        3  x  Rp. 6000.-
-          Foto copy               40 x  Rp.   600.-
Rp.      30.000.-
Ø  Majalah tri wulan 30 halaman.
-          Print                       9    x  Rp. 2000.-
-          Sampul                   20  x  Rp. 1500.-
-          Foto copy              20  x  Rp. 2000.-
                               Rp.        88.000.-        
Ø  Rekaman & pembuatan klip:   Rp 500.000.-

·         14 Feb 2014 – 14 feb 2017
Ø  Mulai fotokopi konsep koma aliyah di beberapa titik (target minimal sebelum tahun 2017, udah ada 10 titik koma aliyah)
Ø  Pengumpulan data mbah wahab s/d feb 2015, tahun 2016-nxa fokus pada editing &cetak, tahun 2017 fokus pemasaran biografi mbah wahab
Ø  14 februari 2017
ü  Peringatan dasawarsa koma, mengundang semua nggota koma di berbagai daerah,
ü  Mempunyai rumah permanent sebagai bescamp koma BU & yayasan koma nusantara
ü  Pembentukan ormas koma nusantara

*) Koma Nusantara
baca lengkapnya
// // Tinggalkan Komentar . . .

Selayang Pandang Komunitas Pena KOMA Bahrul Ulum




A.    Tentang Komunitas Pena KOMA Bahrul Ulum
Serupa tapi tak sama. Demikianlah kiranya ungkapan yang cocok untuk menyebut kata ‘KOMA’, sebuah komunitas sastra yang bermarkas di kawasan sekitar pondok Tambakberas Jombang. Serupa dengan yang disandang Teater Koma, teater berskala nasional yang dipandegani R. Riantiarno. Tak sama artinya, meski bernama Koma (,) tanda baca yang difilosofikan sebagai kegiatan yang tak pernah usai dalam berkarya, ajeg dan terus berproses dan tak menemukan titik henti. Sebuah nama tersendiri yang diikhtiyarkan oleh pelakunya dan tidak bersinggungan dengan Teater Koma-nya R. Riantiarno di Jakarta. 

Komunitas yang dikenal dengan sebutan Koma Tambakberas ini didirikan 14 Februari 2007, 85% pesertanya didominasi para santriwan dan santriwati seumuran SMA, sedang selebihnya diikuti mahasiswa yang juga berstatus santri pondok Tambakberas. 
baca lengkapnya
// // Tinggalkan Komentar . . .

STROBERI JUTEK NYO-NYO



Strobery Jutek Nyo-Nyo…
Saat ini aku diam , aku nggak ingin banyak komentar dengan semua sikapmu padaku. Atau sengaja mengobral rayuan maut untuk mendapatkan maksud hati ini. Aku bukan orang seperti itu; mudah mengalah dengan kenyataan. Aku hanya ingin memahamimu, setulus rasa yang tak pernah engkau anggap. Atau bahkan sengaja engkau abaikan. Karena bagimu, mungkin ini tak begitu penting.
Tapi jika suatu saat nanti aku tak peduli lagi padamu, berlari membawa rasa sakit yang telah menghujam tubukku, hingga remuk tak berbentuk. Maka kamu juga jangan banyak komentar dengan sikapku, menganggap Tuhan tak adil, menyesal atas keegoisanmu.
…dan mungkin, itulah giliranmu untuk mengerti dan memahami prasaanku selama ini atasmu…
baca lengkapnya

Senin, 26 November 2012

// // Tinggalkan Komentar . . .

Jum'atan KOMA edisi 1


Merencanakan Masa Depan
(Catatan Jum’atan KOMA edisi 1 / 09 Nov 2012)

“Laa yughoirulloh bi qoumin, hatta yu ghoiru bi anfusihim”, artinya; Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, sampai kaum tersebut mau merubah nasibnya sendiri. Maqola tersebut menjadi dasar pijakan koma dalam pelaksanaan program jum’atan koma# 01 yang diadakan di musholla Al-Wahabiyyah II, tanggal 09 November 2012.
Acara yang dimulai sekitar pukul 14.00 wib ini, dibagi menjadi dua sesi pembahasan, yakni:
1.) Pembahasan News Letter Koma.
Pada sesi ini, selain mengevaluasi lay out news letter, kita juga mengapresiasi karya-karya yang dimuat didalamnya, dengan harapan agar dari hari ke hari selalu ada peningkatan mutu tulisan. Hal ini adalah juga sebagai persiapan koma dalam merealisasikan rogram pembuatan bulletin & majalah di masa-masa yang akan datang.
Sesi ini diakhiri dengan kesepakatan tema news letter e.d.c berikutnya, yakni ‘Character Building’.
2.) Pembahasan  tema “KOMA, siapa aku?..”
Mengamati langkah demi langkah komunitas koma selama ini (sejak lahirnya pada 14 Februari 2007, dapat disimpulkan bahwa komunitas koma masih mengedepankan karakter ‘ayam’—dalam artian bahwa setiap tahunnya hanya berfikir bagaimana tahun ini? Sehingga melupakan program untuk tahun-tahun yang akan datang. Hal inilah yang kemudian membuat langkah koma seakan jalan di tempat.
Berangkat dari analisis di atas, maka jum’atan koma e.d.c perdana ini, koma memilih tema “Koma, siapa aku?..” Mengapa memilih tema tersebut? Karena tanpa mengenal jati diri koma, maka –di saat yang sama– koma juga tak akan mampu memetakan langkah koma ke depan.

Setelah melalui proses diskusi yang hangat, akhirnya disepakati bahwa jati diri koma adalah komunitas yang didirikan untuk menjadi media belajar bersama anggota-anggotanya. Sehingga proses yang berkesinambungan mutlak diperlukan. Dan karena mufakat, koma juga telah menyepakati langkah teknis estafet koma menuju miladnya yang ke-10 ( 14 Feb 2017), atau lima tahun ke depan.
Koma! Rencanakan kerjamu, dan kerjakan rencanamu! J

Team Redaktur, 14/11/12

baca lengkapnya

Sabtu, 24 November 2012

// // Tinggalkan Komentar . . .

KUMPULAN CERPEN Mangun-Kuncoro (penulis KOMA)


baca lengkapnya

Kamis, 12 April 2012

// // Tinggalkan Komentar . . .

Kampung KOMA

Kabar Gembira !!!
Buat dulur-dulur yang butuh buku, sandal, sepatu, aksesoris, kerudung, baju, dan lain sebagainya sekarang nggak perlu jauh-jauh lagi ke pasar Legi, karena telah hadir Kampung KOMA yang menyediakan kebutuhan anda.
Dijamin dech,,, harga terjangkau dan kualitas terjamin……
Di mana she,,,????
Di Jl. KH. Abd. Wahhab Hasbulloh Gg IV Tambakberas Jombang
Buruan!!!
Dapatkan stiker
cantik dan diskon 10% dari total belanja
selama masa promo.!!
baca lengkapnya

Senin, 09 April 2012

// // Tinggalkan Komentar . . .

Perjalanan Komunitas KOMA*)




Serupa tapi tak sama. Demikianlah kiranya ungkapan yang cocok untuk menyebut kata ‘KOMA’, sebuah komunitas sastra yang bermarkas di kawasan sekitar pondok Tambakberas Jombang. Serupa dengan yang disandang Teater Koma, teater berskala nasional yang dipandegani R. Riantiarno. Tak sama artinya, meski bernama Koma (,) tanda baca yang difilosofikan sebagai kegiatan yang tak pernah usai dalam berkarya, ajeg dan terus berproses dan tak menemukan titik henti. Sebuah nama tersendiri yang diikhtiyarkan oleh pelakunya dan tidak bersinggungan dengan Teater Koma-nya R. Riantiarno di Jakarta. 

Komunitas yang dikenal dengan sebutan Koma Tambakberas ini didirikan 14 Februari 2007, 85% pesertanya didominasi para santriwan dan santriwati seumuran SMA, sedang selebihnya diikuti mahasiswa yang juga berstatus santri pondok Tambakberas. 

Apa yang membuat Koma Tambakberas tersebut patut diperhitungkan dalam kancah kesusastraan sejajar dengan komunitas lain di Jombang? Jawabnya adalah keajegan, rutinitas agenda yang berjalan hingga 4 tahun sekarang. Jarang komunitas sastra di Jombang yang bertahan hingga 4 tahun, komunitas yang pernah bercokol rata-rata hanya seumur jagung, mudah mengawali, tidak jelas kapan mengakhiri, lalu hilang tanpa bekas.  

Selama perjalanannya, Koma Tambakberas mengagendakan beberapa kegiatan: Lesehan Sastra (tiap 3 minggu sekali yang jatuh pada hari Jum’at), Malam Pituan (diskusi khusus santri laki-laki tiap malam tanggal 6 tiap bulan) dan Tadarus Sastra (setahun sekali tiap liburan sekolah), dengan catatan, agenda Lesehan Sastra dan Malam Pituan terekam dalam agenda Tadarus Sastra yang ditambahi dengan program lain yang terkait.

Untuk Lesehan Sastra Koma Tambakberas mengonsep tema Privatan Sastra, yakni seluruh anggota memilih jenis kepenulisan yang dicenderunginya antara cerpen, esai dan puisi. Yang sudah terkelompok dalam esai akan dibina khusus oleh esais. Begitu juga yang terkelompok mendalami cerpen, Koma mendatangkan khusus pembina cerpenis.

Pada agenda Tadarus Sastra tahun 2012 ini merupakan lanjutan agenda tahun sebelumnya, di mana pada tahun 2010 Koma membedah buku Antologi Penyair Kutub Jogyakarta. Sedang pada tahun 2011 jatuh pada 22 Juni membedah buku Indonesia Tanpa Muhammadiyah dan NU (dialog imajiner) karya Teguh Winarso-Harianto Jogyakarta dengan pembedah Gus Kholik (dari pihak intern pondok) dan Sabrank Suparno (penulis Jombang). 

Meski belum menembus media nasional, namun Koma Tambakberas sudah menghasilkan beberapa penulis yang karyanya dimuat media lokal. Sebut saja di antaranya Andy Mangun Kuncoro, Esty Vitaningtiyas, Atiqotul Maula, Dian DJ dll, karyanya pernah menghuni rubrik Curhat Radar Mojokerto Jombang, Majalah Tebuireng, Majalah Jerambah dan bulletin intern Koma.

*) M. Fahmi, Penggiat KOMA Bahrul ‘Ulum Tambakberas Jombang.
baca lengkapnya

Sabtu, 10 Desember 2011

// // Tinggalkan Komentar . . .

Catatan Malam Jum'at ke - 12


Tambakberas, 06 Desember 2011
                Rintik hujan yang sedari sore, terus mengguyur bumi Tambakberas tidak menyulutkan tekad dulur-dulur KOMA ( Komunitas Pena ) untuk mengistiqomahkan agenda diskusi rutin Malem Pituan. Kegiatan ini dilaksanakan sekali dalam sebulan, yakni tiap tanggal 6, malam 7. Acara ini dilaksanakan di Musholla Al-Wahhabiyyah 2 Bahrul ‘Ulum Tambakberas, Jombang.
                Dalam acara Malem Pituan yang ke-12 ini ada dua sesi yang diagendakan, yaitu :
è Diskusi “Gudik dan Pesantren”, dengan narasumber utama, Mas Mulyadi alumni Stikes Tambakberas Jombang.
è Bedah cerpen “Kota Para Pelopor”, karya Mangun Kuncoro, Pembina Sastra KOMA.
              Pada sesi pertama, Mas Mulyadi yang saat ini bekerja sebagai perwat di Rumah Sakit Al-Azizi Jombang menyampaikan, bahwa mitos yan mengatakan bahwa gudik merupakan penyakit santri adalah mitos yang salah. Karena secara medis, gudik pada dasarnya akan menyerang siapa saja yang kurang mampu menjaga kebersihan diri dan lingkungan. Tanpa peduli santri, atau bukan. Pada sesi ini dengan menggunakan peralatan LCD Proyektor, ditampilkan beraneka gambar penyakit kulit yang biasa menyerang manusia.
              Pada sesi kedua, bedah cerpen berlangsung sangat menarik. Cerpen “Kota Para Pelopor” yang mengisahkan perjalanan sang Tokoh utama selama menuntut ilmu di Jombang, yakni kota tempat di mana banyak dilahirkan tokoh-tokoh besr, semisal : KH. Hasyim ‘Asyari, Gus Dur, Cak Durasim, Cak Nur, Emha Ainun Nadjib, dan lain sebagainya.
              Acara yang dimulai dari pukul 20.30 ini, diakhiri saat jaru jam tepat menunjuk angka 22.30. Ada beberapa alas an yang membuat agenga Malem Pituan yang ke-12 ini terasa special, yakni :
·         Pertama kalinya diskusi Malem Pituan menggunakan fasilitas LCD Proyektor.
·         Pertama kalinya diskusi Malem Pituan didokumentasikan.
·         Dalam acara tidak hanya dihadiri oleh santri putra saja, akan tetapi santri putri ikut menyemarakan dan berpartisipasi di dalamnya.
Mulai saat ini, KOMA bertekad untuk mulai belajar mendokumentasikan tiap gerak langkahnya.
Wallaahu A’lam,,,

      Musholla, dini hari, 07 Desember 2011
Graha KOMA

baca lengkapnya